“anda cukup punya niat saja, selebihnya Tuhan yang akan menyempurnakannya” (Kahlil Gibran)
SUKSES.
Kata ini senantiasa disandingkan dengan keberhasilan atau pencapaian
terhadap suatu usaha atau kedaan. Diantara kita tidak ada yang tidak
ingin sukses, setiap orang yang ‘sadar’ (memiliki akal sehat) pasti
ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya, baik terhadap pendidikan, karir,
rumah tangga dan lain sebagainya.
Yang
perlu kita pahami, kesuksesan tidak ditentukan oleh ijazah yang kita
miliki, jurusan yang kita geluti, tidak juga oleh garis keturunan.
Kesuksesan itu memiliki ‘garis tangannya’ sendiri – penulis bukan
menvonis, penulis sadar bahwa banyak orang sukses berkat nasab juga
ijazahnya, tetapi itu bukanlah suatu jaminan utama. Sukses itu
ditentukan oleh seberapa besar usaha kita, seberapa kuat diri kita
menekuni suatu kerja yang dapat mengantarkan kita pada pintu kesuksesan.
Albert Einstein menulis; kesuksesan itu 1% disebabkan oleh kepintaran
dan 99% disebabkan oleh usaha.
Sebuah
berita menarik dihidangkan oleh Tempo.co dengan judul; Lulusan SD Jadi
Pengusaha, Sarjana Jadi Karyawan (lihat di; hipmi-pmk.blogspot.com).
mengutip release Kementerian Usaha Kecil dan Menengah, disebutkan bahwa
para sarjana lebih suka jadi karyawan ketimbang pengusaha. data itu
menulis minat masyarakat untuk menjadi pengusaha; 6,14% perguruan
tinggi, 22,36% pendidikan menengah umum dan yang membanggakan lulusan SD
mencapai 32,46%.
Data
ini cukup menjadi gambaran bahwa alumni perguruan tinggi lebih merasa
sebagai kaum elitis dengan memilih karyawan, sukwan dan PNS sebagai
target pekerjaan. Jika kita berfikir lebih jauh –dengan merajut berbagai
informasi disekeliling kita- pintu menjadi tenaga sukwan saja sudah
sempit apalagi PNS. Hari ini menjadikhabar yang tidak asing bahwa PNS sudah ada yang mengkapling.
Adalah
cukup bijak jika kita mau ‘pindah kiblat’ dengan berwirausaha.
Wirausaha tidak butuh ijazah, tidak butuh jurusan. Berwirausaha hanya
butuh kemauan dan kerja keras. Wirausaha adalah ladang yang tidak pernah
habis dikapling orang, selama kita punya ghiroh berbagai peluang senantiasa terbuka. Kita tidak memerlukan timing yang pas, kita hanya perlu menentukan waktu -kapan kita akan memulai berwirausaha.
Ayo Menjadi Pengusaha
Menjadi
pengusaha. Sebagian dari kita ada yang tertarik untuk menjadi
pengusaha, dengan asumsi akan lebih mandiri secara ekonomi. dan sebagian
lain tidak tertarik alias pesimis untuk menjadi pengusaha karena
kepikiran terhadap ‘pasar yang tidak bisa ditebak’, atau tidak tertarik
karena kita merasa tidak cocok alias tidak pas dengan pendidikan kita,
tidak pas dengan ijazah kita dan seterusnya. Kita merasa lebih pas jadi
pejabat !!!
Tetapi
jika kita mau berfikir lebih jernih dan belajar lebih serius tentang
dunia usaha, termasuk peluang menjadi pengusaha, kita akan menemukan
‘kebenaran’ hakiki, Bahwa menjadi pengusaha itu mudah dan berkah. Dengan
menjadi pengusaha kita akan mandiri, dan yang terpenting dapat
menolong lebih banyak orang.
Syarat
menjadi pengusaha pun sangat mudah, tidak sulit sebagaimana PNS, kita
cukup punya kemauan dan mau memulainya dari nol. adalah syarat awal
barangkali cukup membantu ‘menggerakkan hati kita menggeluti dunia
usaha:
1. Merubah mindset (pola pikir)
Pola
pikir adalah hal yang sangat menentukan dalam hidup. Orang yang sukses
dan orang yang gagal ditentukan oleh pola pikirnya. Hal yang pertama
didalakukan (dalam memulai usaha) adalah merubah mindset. Kita jangan
selalu berfikir bahwa kalau kita tidak sukwan, tidak jadi PNS kita tidak
akan makan. Bahwa mahasiswa adalah kaum elitis sehingga alumnus
perguruan tinggi tidak ‘nyambung’ kalau terjun dalam dunia usaha,
apalagi jurusannya eksak (matematika dll) atau agama (tarbiyah dll.)
Kita
perlu meluruskan ‘iman’ kita, bahwa berwirausaha bukan lantas
menghinakan kita, bahwa wirausaha tidak layak bagi kaum berpendidikan.
Kita mesti senantiasa berfikir bahwa berwirausaha adalah wujud
kemandirian, dengan wirausaha kita akan sukses.
Jika
kelak kita telah benar-benar menjiwai wirausaha, malah kita akan
menjadikan wirausaha sebagai jalur utama dan pns sebagai pekerjaan
sampingan.
2. Mengenali potensi diri (bakat)
Setiap
manusia dilahirkan dengan segenap potensi –sebagai fitrah- sehingga
dapat dijadikan ‘alat’ bertahan hidup sebab manusia merupakan ‘pelaku
–khalifah-’ didunia ini, oleh karena itu manusia –oleh Tuhan pencipta-
dibekali potensi dan dikaruniai akal dan fikiran sehingga manusia dapat
mengembangkan potensi itu sesuai dengan keperluan dan kesadaran manusia.
maka oleh karenanya pencapaian dan ‘pendapatan’ manusia berbeda
tergantung seberapa besar ia memfungsikan fasilitas akal fikiran, dan
kekuatan yang dimiliki.
Jika
sebagian dari kita, manusia, belum menemukan bakat tersebut maka kita
perlu menggalinya dengan cara mencari inspirasi dan motivasi, sehingga
mengenali sebenarnya pada bidang apa keahlian kita.
3. Berani bermimpi
Mimpi
–impian- memiliki kekuatan yang dahsyat terhadap pencapaian umat
manusia. kita telah membaca bagaimana orang terdahulu dibesarkan
mimpinya. Tomas alfa Edison penemu lampu pijar, james watt penemu mesin,
atau dari kalangan pengusaha, Gazali pengusaha teri PT. Marinal Indo
Prima, dan sebagainya. Maka bermimpi adalah bagian terpenting menuju
sukses berwirausaha.
4. Berkumpul dengan pengusaha
Adagium
sering kita dengar ; berkumpullah dengan penjual minyak wangi kita akan
terpercik wanginya, berkumpullah dengan pandai besi, kita akan ikut bau
asap. Adagium ini dapat diperluas maknanya; berkumpullah dengan preman
niscaya kita akan jadi preman, berkumpul dengan orang yang suka belajar
maka kita akan ikut pintar, berkumpullah dengan pengusaha maka kita
termotivasi dan sedikit banyak akan mengetahui pola berwirausaha.
5. Modal usaha
Banyak
dari kita berfikir jika sudah disebut modal usaha, pikiran kita akan
tertuju pada uang/dana. Modal tidak hanya uang, sebab uang saja tidak
cukup, banyak uang –digelontorkan untuk usaha- tanpa didukung ‘modal’
utama akan habis sia-sia. Modal utama itu adalah IDE.
Modal
terpenting dalam berwirausaha bukanlah uang, tetapi IDE atau gagasan
usaha. Kita punya modal tapi tidak punya ide usaha maka uang tidak akan
maksimal. Tetapi kalau kita punya ide, maka usaha akan tetap bisa jalan.
6. Memulai usaha
- Merancang usaha
Dalam
memulai usaha kita harus berfikir ‘apa kira-kira bisnis yang cocok
dengan karakter kita’. Jika kita sudah mengetahuinya barulah kita mulai
merancang langkah-langkah usaha seperti, pengadaan, modal, pasar dan
sebagainya. Perencanaan [proposal] bisnis akan menjadi gambaran tentang
segmentasi usaha yang akan kita geluti.
- Melakukan yang paling mungkin untuk dilakukan
7. Siap menghadapi tantangan
Berwirausaha
memiliki banyak tantangan, kita akan dihadapkan pada ‘pasar’ yang
sewaktu-waktu dapat berubah, persaingan yang kian ketat. Oleh karena itu
kita harus menguasai seni berbisnis, mengetahui kebutuhan pasar dan
sebagainya. Akhirnya yang harus ditanamkan adalah –pesan KADIN
Pamekasan-; JANGAN PERNAH BERHENTI DISATU TITIK
Kadang kala jalan yang kita lalui, tidak sepenting arah yang kita tuju.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar