Ada beberapa hikmah dari peristiwa Isra Mi'raj: 1. Adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. 2. Kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi'raj dan perintah salat. 3. Salat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.
Dalam sejarah umat Islam, peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dari
Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina merupakan sebuah
peristiwa yang sangat fenomenal. Ini dikarenakan, saat peristiwa
tersebut Nabi Muhammad SAW memperoleh perintah ibadah wajib, yaitu salat
lima waktu yang langsung diperintahkan dari Allah SWT.
Dan,
perintah salat ini menjadi suatu ibadah wajib bagi setiap umat Islam
serta memiliki keistimewaan tersendiri, jika dibandingkan ibadah-ibadah
wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun
perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak
kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama
(Islam).
Imam Al-Qusyairi yang lahir pada
376 Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini,
berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan
hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta
telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran
dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang
menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.
Dalam
pengertiannya, Isra’ Mi'raj merupakan perjalanan suci, dan bukan
sekadar perjalanan "wisata" biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini
menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari
kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the
Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti
pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi'raj adalah satu
dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW,
selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi'raj, menurutnya,
benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan
dunia spiritual.
Jika perjalanan hijrah dari
Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum
Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum
Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi puncak
perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra
Mi'raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan rohani (insan kamil).
Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan
meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.
Inilah
perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan
menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa
Isra Mi'raj yakni ketika Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah SWT.
Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, "Attahiyatul
mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah"; "Segala penghormatan,
kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja". Allah SWT pun
berfirman, "Assalamu'alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh".
Mendengar
percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah
syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini
diabadikan sebagai bagian dari bacaan salat.
Selain
itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993)
mengungkapkan bahwa pengalaman rohani yang dialami Rasulullah SAW saat
Mi'raj mencerminkan hakikat spiritual dari salat yang di jalankan umat
Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa salat adalah mi'raj-nya
orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada
beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.
Ada beberapa hikmah dari peristiwa Isra Mi'raj:
1. Adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam.
2. Kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi'raj dan perintah salat.
3. Salat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.
Ketiga
hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat
Al-Quran, yang berbunyi "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa
mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
Mengacu
pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya
sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap
tentang peristiwa Isra’ Mi'raj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya
beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain
dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mi'rajnya Abu Yazid
al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi
kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.
Ia
menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan
niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari
segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa
jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin,
atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas
kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi "puncak" perjalanan seorang
hamba menuju kesempurnaan ruhani. Dikutip dari laman NU, Senin (28/2/15).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar